Another story tentang kereta api andalan penulis yaitu Madiun Jaya. Jumat itu seperti biasa sepulang kantor penulis langsung menuju Stasiun Lempuyangan untuk melakukan perjalanan mudik. Kala itu mendung menggelanyut dengan berat, menumpuk hitam di sekitar Gunung Merapi. Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore. Jalanan di depan stasiun sudah penuh dengan orang plus kendaraannya masing-masing. Parkiran penuh dan di depan peron antrean tiket pun mengular panjang.Setelah tiket berada di genggaman penulis pun beranjak ke peron menunggu kereta lewat. Semakin tampak jelaslahlah lautan manusia memenuhi semua sisi dan sudut stasiun. Hmmm., semua orang hendak mudik ternyata, mungkin karena hari Senin adalah Hari Kecepit Nasional (di kemudian hari diketahui bahwa hari itu kemudian menjadi Hari Libur Mendadak Se-Indonesia). Hampir pukul empat ketika mendung mulai berubah menjadi hujan yang amat deras, tak ada tanda-tanda kereta akan lewat. Hujan semakin deras, lautan manusia belum tampak surut, dan kereta belum juga lewat. Sampai akhirnya pukul setengah 5 lebih baru nampak kereta dari arah timur, ah akhirnya datang juga kereta yang ditunggu-tunggu..
Kata orang keuntungan naik kereta adalah anti macet dan menangan (karena semua kendaraan rela berhenti tatkala ia lewat), namun kereta tetap punya kekurangan. Apa hendak dikata ketika kereta sudah datang terlambat maka walaupun anti macet perjalanan pun akan tetap terhambat. Praktis waktu itu kami berangkat dari Jogja sekitar pukul 5 sore, terlambat 1 jam dari jadwal. Karena ini adalah kereta ekonomi maka pasti nanti kami akan harus banyak mengalah pada saudara tua yang eksekutif sekali itu. Benar saja, ketika sampai di Stasiun Walikukun kami harus menunggu tak hanya satu namun tiga kereta, yaitu Mutiara Selatan, Senja Kediri, serta Bima. Di sana berhenti hampir 1 jam lamanya, bosan dan lapar pemirsa... Hingga singkat cerita pukul 9 malam alias 4 jam dari Jogja, walau dalam keadaan capek dan lapar berat akhirnya penulis sampai tujuan juga..^^b
Kata orang keuntungan naik kereta adalah anti macet dan menangan (karena semua kendaraan rela berhenti tatkala ia lewat), namun kereta tetap punya kekurangan. Apa hendak dikata ketika kereta sudah datang terlambat maka walaupun anti macet perjalanan pun akan tetap terhambat. Praktis waktu itu kami berangkat dari Jogja sekitar pukul 5 sore, terlambat 1 jam dari jadwal. Karena ini adalah kereta ekonomi maka pasti nanti kami akan harus banyak mengalah pada saudara tua yang eksekutif sekali itu. Benar saja, ketika sampai di Stasiun Walikukun kami harus menunggu tak hanya satu namun tiga kereta, yaitu Mutiara Selatan, Senja Kediri, serta Bima. Di sana berhenti hampir 1 jam lamanya, bosan dan lapar pemirsa... Hingga singkat cerita pukul 9 malam alias 4 jam dari Jogja, walau dalam keadaan capek dan lapar berat akhirnya penulis sampai tujuan juga..^^b