Monday, May 2, 2011

Story: Pembagian SK CPNS


Dari sebuah objek CPNS, banyak sekali cerita yang bisa diceritakan. Mulai dari persiapan ujian, tips ujian, pelaksanaan ujian, penerimaan atau pengumuman, pemberkasan, sampai akhirnya pada pembagian SK CPNS. Khusus bagi penulis sendiri, pembagian SK sangat dinanti-nanti, mungkin begitu juga bagi kebanyakan calon CPNS lainnya. Namun jangan salah,
ada juga yang berharap SK agak mundur saja dibagikannya, alasannya sih sangat simpel, yaitu bisa sambil menunggu anaknya lebih besar untuk ditinggal bekerja.
Ternyata pembagian SK untuk CPNS tahun 2010 di wilayah kerja penulis lumayan lama dibanding dengan pembagian tahun sebelumnya. Beberapa wilayah lain mulai membagikan SK pada bulan Februari atau Maret, sedangkan tempat penulis bekerja membagikannya pada bulan April. Jadi setelah pengumuman pada 20 Desember 2010 ada jeda tak kurang dari 3 bulan. Sampai bosan penulis diberondong oleh pertanyaan dari saudara, tetangga, teman, pakde, dan budhe tentang SK yang tak turun-turun. Hingga akhirnya kami satu per satu di telepon oleh BKD untuk menghadiri acara pembagian SK CPNS dengan pakaian putih hitam. Dalam acara tersebut, pihak yang berwenang mengungkapkan beberapa alasan keterlambatan pembagian SK CPNS antara lain ada calon CPNS yang sedang belajar di Taiwan, sampai masalah klasik seperti legalisir ijazah. Namun apapun yang terjadi, pagi itu sepanjang acara dipenuhi oleh senyum bahagia, CPNS dan panitia semuanya sibuk senyum-senyum, bahagia pokoknya. SK sendiri hanya berupa kertas biasa satu lembar berisi sejumlah keterangan umum seperti nama, NIP, dan lain-lain, yang pertama kali dilihat sepertinya jumlah gaji, haha. CPNS menerima gaji 80% dari jumlah gaji pokok, namun jangan berharap langsung mendapatkannya karena masih banyak yang harus diurus terutama jika telah berkeluarga, sementara ngutang-ngutang dulu sambil menunggu rapelan.
Di acara ini juga diberikan wejangan tentang menjadi pegawai yang baik dan benar, ada juga sedikit cerita tentang seragam dan aturan-aturan umum kepegawaian. Yang menarik adalah seragam kami yang mengusung semangat kerakyatan, jenisnya hanya ada dua yaitu seragam berwarna biru dan batik bebas, tanpa badge atau embel-embel lain, jadi mirip sekali dengan pegawai pabrik tekstil, hehe. Sangat berbeda dengan tempat ibu penulis bekerja yang berganti baju setiap hari.
Kemudian selanjutnya tinggal lapor ke unit kerja masing-masing dan siap untuk mulai bekerja. Awalnya dimulai dengan perkenalan dan kemudian mulai menjadi pengamat dan pendengar yang baik. Karena masih baru, tidak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan, baguslah, belum biasa kerja keras soalnya, hehe.. ^^b