
Setelah peristiwa yang tidak menyenangkan kemarin, kami memutuskan untuk menggunakan kereta api saat pulang ke surabaya. Ibu penulis bahkan mulai trauma dengan kata-kata ekonomi, beliau bertekad untuk naik kereta bagus, EKSEKUTIF...!!! Hahaha, tapi tiket eksekutif mahal lho, Mutiara Selatan dari Jember ke Surabaya harganya Rp.95.000,-, mendengar itu ibu langsung banting setir ke bisnis. Ya akhirnya kami berangkat juga dengan kerata Mutiara Selatan kelas Bisnis dengan harga tiket Rp. 60.000,-.
Kereta berangkat dari Banyuwangi dan sampai di stasiun Jember pukul 1 dini hari. Maka tengah malam kami pun naik taksi menuju stasiun. Sampai di stasiun pukul setengah satu, lalu kami menunggu di peron sambil terkantuk-kantuk dan kedinginan. Ada yang unik di sini, di Stasiun Jember ini nanti kereta akan ditambah gerbongnya, khususnya adalah gerbong kelas bisnis. Jadi dari Banyuwangi ada 8 gerbong, yaitu 5 gerbong eksekutif, 1 gerbong restorasi, dan 2 gerbong bisnis. Di Stasiun Jember telah disiapkan 2 gerbong bisnis yang nanti akan ditambahkan pada rangkaian kereta dari Banyuwangi. Berarti memang banyak peminat kereta ini, apa mungkin semua trauma naik bis...?
Well, perjalanan naik kereta dimulai dengan gedoran di pintu gerbong oleh petugas. Pintu gerbong depan dan belakang sama-sama tertutup, apa gerangan? Ternyata jalan ke pintu dipakai tidur oleh banyak penumpang, entah penumpang legal atau ilegal penulis malas memikirkannya. Di sela antar kursi juga banyak dipakai tidur, lumayan sumpeknya. Namun karena mengantuk penulis pun langsung terlelap saat mencapai kursi. Saat terbangun sudah sampai Sidoarjo, enak sekali naik kereta Jember-Surabaya malam-malam, sepi tidak ada penjual asongan, padahal kalau lewat jalur ke Jakarta di sekitar Cirebon pasti ada bejibun penjual asongan. Kami pun sampai di stasiu Gubeng Surabaya sekitar pukul setengah 6 pagi, yah tepat waktu lah...
Yang lebih aneh adalah komentar ibu penulis yang mengatakan lebih menyukai kereta ekonomi, menurut beliau kereta ekonomi lebih luas dan nyaman dibanding kereta bisnis, ah embuh ah..., ekonomi atau bisnis yang penting sampai dengan selamat saja...^^b
Well, perjalanan naik kereta dimulai dengan gedoran di pintu gerbong oleh petugas. Pintu gerbong depan dan belakang sama-sama tertutup, apa gerangan? Ternyata jalan ke pintu dipakai tidur oleh banyak penumpang, entah penumpang legal atau ilegal penulis malas memikirkannya. Di sela antar kursi juga banyak dipakai tidur, lumayan sumpeknya. Namun karena mengantuk penulis pun langsung terlelap saat mencapai kursi. Saat terbangun sudah sampai Sidoarjo, enak sekali naik kereta Jember-Surabaya malam-malam, sepi tidak ada penjual asongan, padahal kalau lewat jalur ke Jakarta di sekitar Cirebon pasti ada bejibun penjual asongan. Kami pun sampai di stasiu Gubeng Surabaya sekitar pukul setengah 6 pagi, yah tepat waktu lah...
Yang lebih aneh adalah komentar ibu penulis yang mengatakan lebih menyukai kereta ekonomi, menurut beliau kereta ekonomi lebih luas dan nyaman dibanding kereta bisnis, ah embuh ah..., ekonomi atau bisnis yang penting sampai dengan selamat saja...^^b