
Entah kenapa, perjalanan ke Jember selalu menyisakan cerita yang lucu sekaligus menyebalkan. Untuk sekian kalinya, akhir bulan Maret yang lalu penulis menyambangi Jember lagi. Untuk alasan yang sama yaitu menemani Ibu mengunjungi cucu pertamanya. Karena suatu alasan yang tidak usah diceritakan, penulis berangkat dari Surabaya. Ya dari stasiun Purbaya Surabaya yang panas dan hampir selalu ramai. Angkutan bis ke Jember memang tidak seramai angkutan bis lain, apalagi kalau dibandingkan dengan rute Surabaya-Jogja misalnya.
Rute Surabaya-Jogja dikuasai oleh Sumber Kencono, tiap 10 menit bis selalu hilir mudik, armadanya pun bagus, serta tepat waktu. Selain Sumber Kencono juga ada Mira dan juga ada versi Patas Eka. Sedangkan rute Surabaya-Jember jumlahnya tidak sebanyak itu, padahal rute ini juga harus melewati daerah rawan macet di Porong.
Maka kisah apes kami pun dimulai saat di terminal tidak ada bis patas jurusan Jember. Sudah menunggu setengah jam, nyatanya yang hadir malah berita banjir di Probolinggo. Kami pun terpaksa mengiyakan tawaran kernet bis ekonomi. Bisnya sungguh ekonomi dengan harga tiket Rp. 30.000,-, beda sekali dengan Sumber Kencono ekonomi yang sudah full AC. Cat bis sudah mengelupas dan berkarat, kursi sudah reot, jendela macet, namun karena tidak ada pilihan lain kami naik juga. Waktu itu menunjukkan pukul 12 siang dan selain kami juga banyak orang yang naik dengan terpaksa, bus pun berjubel tak terkira panasnya.
Untuk mengusir pusing, penulis mencoba tidur, hilang sudah harapan menikmati pemandangan Surabaya-Jember versi siang hari karena kondisi tidak memungkinkan. Di sela antar kursi berjejeran penumpang berdiri mulai depan sampai belakang, jendela sempit dan letaknya tinggi sehingga menyulitkan untuk melihat keluar. Ketika terbangun ternyata bis baru sampai Pasuruan, penulis mulai memukul-mukul lutut karena pegal, sabar sabar..
Kemudian sampai juga kami di titik kemacetan di Probolinggo, waktu itu sekitar pukul 2 siang. Bis benar-benar berhenti, sementara di lajur lain kendaraan tampak melaju tanpa kesulitan berarti. Area banjir pun tidak tampak, beberapa penumpang mulai turun dari bis karena tidak kuat menahan panas. Bis hanya berjalan beberapa meter sampai akhirnya berhenti lagi, semua itu berlangsung hampir 2 jam, dan bayi-bayi mulai menangis. Hingga akhirnya tampak pula area banjir itu, sudah surut dan air tak lagi menggenangi jalan. Rupanya kemacetan terjadi karena ada sebuah truk yang terperosok di lajur kami, anehnya tidak ada petugas yang mengatur lalu lintas, penumpang sibuk memaki-maki.
Perjalanan pun dilanjutkan, kini masalah berganti, bis yang kelebihan muatan mulai tersendat-sendat dan bahkan mogok jalan. Penumpang kembali memaki-maki kru bis saat petang mulai menjelang di area sebelum Lumajang. Untungnya bis tidak mogok terlalu lama dan singkat cerita sampailah kami di Jember pada pukul 7 malam, fuyuh..., capeeek... ^^b
Untuk mengusir pusing, penulis mencoba tidur, hilang sudah harapan menikmati pemandangan Surabaya-Jember versi siang hari karena kondisi tidak memungkinkan. Di sela antar kursi berjejeran penumpang berdiri mulai depan sampai belakang, jendela sempit dan letaknya tinggi sehingga menyulitkan untuk melihat keluar. Ketika terbangun ternyata bis baru sampai Pasuruan, penulis mulai memukul-mukul lutut karena pegal, sabar sabar..
Kemudian sampai juga kami di titik kemacetan di Probolinggo, waktu itu sekitar pukul 2 siang. Bis benar-benar berhenti, sementara di lajur lain kendaraan tampak melaju tanpa kesulitan berarti. Area banjir pun tidak tampak, beberapa penumpang mulai turun dari bis karena tidak kuat menahan panas. Bis hanya berjalan beberapa meter sampai akhirnya berhenti lagi, semua itu berlangsung hampir 2 jam, dan bayi-bayi mulai menangis. Hingga akhirnya tampak pula area banjir itu, sudah surut dan air tak lagi menggenangi jalan. Rupanya kemacetan terjadi karena ada sebuah truk yang terperosok di lajur kami, anehnya tidak ada petugas yang mengatur lalu lintas, penumpang sibuk memaki-maki.
Perjalanan pun dilanjutkan, kini masalah berganti, bis yang kelebihan muatan mulai tersendat-sendat dan bahkan mogok jalan. Penumpang kembali memaki-maki kru bis saat petang mulai menjelang di area sebelum Lumajang. Untungnya bis tidak mogok terlalu lama dan singkat cerita sampailah kami di Jember pada pukul 7 malam, fuyuh..., capeeek... ^^b