It is movie time. Daripada pusing mikir problema kehidupan terus, sekali-kali boleh dong menikmati problema orang lain. Kali ini penulis dan dua orang teman hendak menonton film di bioskop. Biasanya kami selalu pnya rencana hendak menonton film apa, namun kali ini kami pergi tanpa rencana. Googling sebentar ada beberapa pilihan untuk kami, The King’s Speech sangat menggoda namun sayangnya hanya diputar di bioskop yang harga tiketnya lebih mahal. Kemudian ada Faster yang dibintangi Dawyne Johnson si The Rock dan film horor Boo dengan bintang yang tidak kami kenal. Sebenarnya penulis termasuk menyukai Dawyne Johnson namun biasanya nonton dia di film-film keluarga. Akhirnya kami memilih The Mechanic, alasannya penulis sudah pernah membaca reviewnya yang menunjukkan hasil not bad.
The Mechanic sendiri adalah film Amerika produksi tahun 2011 yang dibintangi oleh bintang Transporter Jason Statham. Film ini merupakan remake dari film berjudul sama yang diproduksi pada tahun 1972. Di sutradarai oleh Simon West yang juga pernah menyutradarai film Lara Croft: Tomb Raider. Statham berperan sebagai Arthur Bishop, pembunuh bayaran yang ahli membuat korbannya seperti bukan korban pembunuhan. Mungkin karena filmnya tidak begitu terkenal, waktu itu sepi dan kursi masih banyak yang kosong, baguslah serasa nonton di bioskop pribadi, hehe.
Nonton film di bioskop memang berbeda dengan nonton VCD atau DVD, film action cocok sekali untuk ditonton di bioskop, lebih nendang. Kami pun menjerit-jerit seperti anak kecil ketika melihat adegan berantem, maklum cewek-cewek, hehe. Film yang berdurasi 88 menit ini sebenarnya tidak terlalu spesial, namun juga tidak jelek. Seperti film action kebanyakan yang menyuguhkan adegan perkelahian yang seru sekaligus menyakitkan, film ini juga mayoritas berisi adegan duel fisik. Lokasi film antara lain di St. Tammany Parish, gedung World Trade Center di pusat New Orleans, dan Algiers Seafood Market. Lokasi yang indah malah tersaji dari rumah Arthur yang tersembunyi diantara pepohonan yang sepi sunyi. Di film ini menyuguhkan cerita sehari-hari pembunuh bayaran yang selalu sendiri dan tak punya banyak teman. Si Arhur ini pembunuh bertipe mesin alias The Mechanic yang detail dan perfeksionis, pintar dan teliti. Bahkan saking profesionalnya dia tak banyak peduli pada hal lain selain korbannya tewas dan dia tidak tewas. Weh weh..., kasihan banget ya jadi pembunuh bayaran, jadi sebenarnya ada juga tho yang mau mengambil profesi macam ini, ckckck...^^b
Nonton film di bioskop memang berbeda dengan nonton VCD atau DVD, film action cocok sekali untuk ditonton di bioskop, lebih nendang. Kami pun menjerit-jerit seperti anak kecil ketika melihat adegan berantem, maklum cewek-cewek, hehe. Film yang berdurasi 88 menit ini sebenarnya tidak terlalu spesial, namun juga tidak jelek. Seperti film action kebanyakan yang menyuguhkan adegan perkelahian yang seru sekaligus menyakitkan, film ini juga mayoritas berisi adegan duel fisik. Lokasi film antara lain di St. Tammany Parish, gedung World Trade Center di pusat New Orleans, dan Algiers Seafood Market. Lokasi yang indah malah tersaji dari rumah Arthur yang tersembunyi diantara pepohonan yang sepi sunyi. Di film ini menyuguhkan cerita sehari-hari pembunuh bayaran yang selalu sendiri dan tak punya banyak teman. Si Arhur ini pembunuh bertipe mesin alias The Mechanic yang detail dan perfeksionis, pintar dan teliti. Bahkan saking profesionalnya dia tak banyak peduli pada hal lain selain korbannya tewas dan dia tidak tewas. Weh weh..., kasihan banget ya jadi pembunuh bayaran, jadi sebenarnya ada juga tho yang mau mengambil profesi macam ini, ckckck...^^b