Tuesday, June 28, 2011

Just Take My Letter to

Kadang aku berpikir apa jadinya jika saat ini dirimu masih ada di sini. Pikiran itu pasti membuat sebuah linangan air mata di pipiku. Penyesalan dan rasa bersalahku tak akan bisa terhapus dengan waktu.






Kadang aku berandai-andai jikalau dirimu masih ada disini, lalu apa yang akan kita lakukan bersama? Belum selesai berandai-andai, tetesan air dari mata pasti akan menghentikan lamunanku. Rasa rindu dan pilu yang aku tahu tak akan pernah bisa terobati.

Bagaimana dengan ternak bebek cita-citamu? Bagaimana buku-buku yang kau beli namun sampul plastiknya pun belum kau koyak? Bagaimana dengan kaos hadiah ulang tahunmu dariku yang baru sekali kau pakai? Bagaimana dengan pohon mangga yang kau tanam yang kini telah berbuah? Bagaimana dengan semua itu?

Semua masih ada, semua masih rapi. Semua mengingatkanku padamu. Terbata-bata kukoyak sampul plastik bukumu dan kubaca meski aku tak mengerti. Tertatih-tatih kulipat kaosmu dan kusimpan di lemari yang paling indah. Mungkin semua itu tak akan cukup, tak pernah cukup.

Lalu kulangkahkan kakiku, berjalan kedepan, maju kedepan. Aku tahu kau tak pernah benar-benar pergi. Kau pasti masih disini. Tetap disini. Meski semua salahku, semua khilafku, semua malasku, semua sombongku, semua egoisku, aku sendiri tak bisa mengampuninya. Namun kau pasti sudah memaafkanku, kau pasti mengerti, kau pasti memahami. Itu semakin membuatku membenci diri sendiri.

Aku sebenarnya tahu apa yang harus aku lakukan. Aku masih bisa berbuat sesuatu. Namun kadang aku lemah, kadang aku marah, kadang aku menangis, kadang aku benci, kadang aku tak mau ada disini, kadang aku ingin pergi jauh berlari. Padahal aku sudah memberi restuku. Namun kenapa aku masih saja menggerutu. Aku yakin inilah yang disebut mudah mengatakan namun sulit melaksanakan. Maafkan aku. Tolong, berikan aku kesempatan lagi.

Bapak..., happy bday, I do miss you... Aku akan membahagiakan ibu, aku akan menjaga ibu..^^b