Monday, March 6, 2017

Pasar-pasar

Malam, sebelum semua ingatan terhapus maka di antara rasa kantuk dan capek, mari kita tuliskan pengalaman hari ini. Berangkat tidur sore karena harus berangkat sebelum subuh.

Rasa was-was menyebabkan tubuh tidak mau tidu nyenyak, baru setengah satu sudah bangun, tidur lagi satu jam kemudian bangun lagi, tidur lagi pun tidak bisa pulas, akhirnya bangun pukul setengah tiga, mandi ala kadarnya dan tidak lupa solat malam sebentar.

Kucing tidak mengerti akan jam, ketika majikannya bangun ya harus makan. Ngasih makan dulu. Mungkin karena berisik adek penulis sudah bangun tanpadibangunkan dan kami berangkat pukul empat kurang. Mampir alfamart dulu beli air mineral dan permen agar tidak mabuk perjalanan. Sampai kantor sudah ramai dan setelah memasukkan peralatan kami pun berangkat. 

Jalanan Imogiri Dlingo Playen semakin senyap ketika dini hari, hanya berpapasan dengan satu truk dan berppasan lagi dengan rombongan sepeda motor yang kayaknya berburu sunrise di Mangunan. Mampir lagi solat subuh di Playen dan kami sampai Dinas Gunungkidul pukul lima.

Karena sudah siang kami langsung berangkat Ke Ponjong, ya Pasar Bedoyo. Sampai Ponjong matahari sudah bersinar, meskipun karena kabut suasananya lebih syahdu, halah. Pasar ramai seperti biasanya,  dan yang paling menarik perhatian adalah penjual sandal jepit warna warni seharga enam ribu rupiah.

Pedagang daging ada di tiap-tiap pojokan, campur baur dengan pedagang lainnya. Monitoring di pasar seperti ini enting karena banyak pedagang yang nakal, yang menjual daging ayam matang degan harga yang tidak masuk hitungan.

Pasar Bedoyo
Pasar Bedoyo
Setelah itu kami lanjut ke Pasar Karangmojo. Kabut masih mengikuti kami, meskipun sudah semakin siang. Pasar Karangmojo malah lebih ramai lagi, seperti mall. Parkir penuh jadi kami ikut parkir di sekolah dekat pasar. Ada pedagang daging ayam, sapi, juga kambing, bahkan kambing hidup pun juga tersedia, #tepokjidat.

Kabut

Hari berikutnya, kami jalan di dekat saja, Kabupaten Bantul. Berangat pukul 7.30 dan harus menunggu apel selesai dahulu. Jadinya semakin siang dan pak supir langsung ngebut menuju Pasar Pleret.

Pasar Pleret los dagingnya belum khusus jadi masih lebih banyak menguasai pinggir jalan antara selasar pasar. Pedagang daging sapi masih ada beberapa orang, namun sudah ada yang pulang.

Pasar Piyungan

Akibat ngebyar

Selanjutnya Pasar Piyungan. Los daging sudah khusus di satu area, namun sayangnya kotor dan berantakan. Masih harus banyak pembinaan. Karena sudah siang pedagang daging sapi hanya tinggal satu orang. Kesiangan!