Friday, November 28, 2014

Tour de Stasiun 2




Kereta api menjadi salah satu mode transportasi massal yang menjadi andalan masyarakat. Begitu pula bagi penulis yang setiap saat dihadapkan dengan pilihan bertransportasi. Meskipun layanan kereta api masih harus terus ditingkatkan namun perjalanan dengan kereta api selalu memiliki cerita unik masing-masing. Meneruskan tulisan Tour de Stasiun berikut stasiun-stasiun lain yang sempat penulis kunjungi belum lama ini.


Bepergian ke Bogor menjadi suatu hal yang menimbulkan kruwel-kruwel di hati, bagaimana tidak Bogor tidak dapat dijangkau dengan satu moda trasportasi saja, misal jika memilih dengan pesawat terbang maka hanya sampai Jakarta kemudian meneruskan perjalanan ke Bogor dengan Bus Damri misalnya.

Jika memilih naik kereta api juga demikian, hanya sampai Jakarta kemudian harus meneruskan dengan KRL atau taksi. Kalaupun ada transportasi langsung yaitu bus malam atau travel yang notabene kurang nyaman dibanding dengan kereta api dan pesawat terbang.

Stasiun Gambir
Jika menggunakan kereta api eksekutif menuju Bogor ada baiknya anda berhenti di Stasiun Jatinegara, karena Stasiun Gambir sudah tidak lagi memberangkatkan KRL. Stasiun Jatinegara (kode: JNG, +16m), yang sebelum kemerdekaan bernama Stasiun Meester Cornelis adalah sebuah stasiun kereta api di Jatinegara, Jakarta Timur.

Stasiun ini merupakan stasiun bertemunya tiga jalur, yaitu jalur ke Pasar Senen, jalur ke Manggarai, dan jalur ke Bekasi. Setiap harinya dilewati sekitar 350 kereta api. Di dekat stasiun ini terdapat dipo lokomotif.

Sebagai stasiun penghubung ke luar Jakarta, stasiun ini dilalui oleh semua KA ke berbagai kota di Pulau Jawa (kecuali tentu saja ke arah Banten dan Bogor). Saat ini, kereta api dari arah Barat tidak ada yang berhenti. Tetapi, semua KA yang datang menuju Jakarta berhenti untuk menurunkan penumpang di stasiun ini.

Stasiun Gambir

Di Stasiun Jatinegara hal yang kurang nyaman yaitu mushola yang harus menyeberang rel. dulu kalau hendak sholat harus menitipkan barang di loker yang berbayar sukarela. Namun loker berbayar tersebut sekarang sudah tidak ada.

Mushola ini juga cukup sempit dan banyak nyamuk. Ketika menjelang subuh, mayoritas penumpang yang turun dari kereta malam langsung otomatis menuju mushola untuk solat subuh, tak ayal berdesak-desakan pun tak terhindarkan.

Toiletnya di Stasiun Jatinegara cukup bersih namun seperti toilet di tempat umum lainnya juga hanya pas badan. Ada satu toko serba ada yang buka 24 jam disini. Ketika anda hendak melanjutkan perjalanan dengan KRL anda harus keluar dulu dari stasiun, melewati deretan tukang ojek dan sopir taksi, menuju pintu masuk untuk membeli tiket.

Pernah suatu saat penulis tak sengaja salah memilih pintu keluar, petugas keamanan yang baik hati bukannya marah malah membantu membelikan tiket KRL. Oya, belakangan ini loket tiket KRL tidak buka 24 jam, jadi penumpang kereta malam harus menunggu di luar pintu masuk. Ada baiknya jika anda penumpang kereta malam cewek, menunggu saja dulu di dalam stasiun. ^^b