Wednesday, August 8, 2012

The Amazing Spider-Man

Mumpung ada temen nonton, baiklah kemaren penulis nonton di bioskop bareng temen jaman kuliah. Cuma bertiga sih, lha wong yang lain sudah enyah dari Jogjakarta, kalaupun masih ada yang berdomisili di Jogjakarta, mereka sudah berkeluarga semua, sibuk mengurus rumah tangganya masing-masing.


Waktu itu sebenernya mau nonton Batman The Dark Rises, tapi karena masih perdana, antrean Batman mengular sekali, jadinya kita berubah pikiran dan berganti menonton The Amazing Spider-Man. Oya kita nonton di XXI Jl. Urip Sumoharjo, dengan harga tiket 3D Rp.30.000,- untuk hari biasa/non-weekend, soalnya kalo bukan yang 3D harganya Rp. 25.000,-, jadi mending yang 3D sekalian tho.

Rekap dulu ya, dulu Spider-Man yang pertama adalah produksi tahun 2002, Spider-Man 2 diproduksi tahun 2004 dan Spider-man 3 tahun 2007. Sedangkan The Amazing Spider-Man yang baru dirilis tahun 2012 adalah versi reboot. Alih-alih menceritakan kelanjutan kehidupan Peter Parker, The Amazing Spider-Man menceritakan masa SMA. Para pemainnya pun berganti dari Tobey Maquire dan Kirsten Dunst menjadi Andrew Garfield dan Emma Stone. Jadi ini kayak kasus rebootnya Batman Series yaitu Batman Begins atau Superman Series dengan reboot serialnya yaitu Smallville.

Reboot secara umum dapat diartikan sebagai ide besar film yang dikenalkan kembali dengan detail yang baru. Tidak seperti sequel, reboot tidak menceritakan kejadian sebelum film awal, tidak berhubungan dengan film awal, namun menceritakan kejadian alternatif dari cerita pada film awal. Reboot pada The Amazing Spider-Man sendiri mungkin bagi penulis sedikit boring ya, soalnya ceritanya tidak jauh berbeda dengan Spider-Man 1, namun sebenarnya reboot dilakukan karena perkembangan teknologi film yang sangat pesat, sehingga film bisa diperbarui misalnya dari segi special efek yang dapat menampilkan efek 3D.

Jadi cerita The Amazing Spider-Man sendiri mirip-mirip dengan Spider-Man 1, cuma lebih dramatis misalnya pas Uncle Ben mati, terus karena Peter Parker masih SMA jadi kelakuannya lebay dan lebih konyol. Musuhnya pun berbeda yaitu disini adalah The Lizard. Meskipun konsepnya sama yaitu ilmuwan baik-baik yang berubah jahat. Sehingga hikmah film pun jadi sama nih kayak 10 tahun yang lalu, hahaha, males analisa aja sebenernya. ^^b