
Sungguh, kehidupan yang kita lalui masih sulit, beban yang kita pikul semakin berat. Pekerjaan kian sulit diari, harga melamnbung tinggi, pengangguran masih tinggi, bencana lam, dan kejahatan yang merajalela. Tidak ada bekal yang terbaik untuk menghadapi kondisi sulit ini selain ketakwaan. Marilah kita menatap hari esok dengan semangat berubah kearah yang lebih baik dan penuh optimisme.
Beberapa variable untuk membangun optimisme yaitu yang pertama adalah husnudzan kepada Allah. Kita sepakat bahwa tidak ada satu peristiwa yang terjadi selain dengan izin dan kehendak Allah termasuk ujian dan kesulitan yang tengah kita hadapi. Seorang mukmin menghadapi semua ketentuan Allah dengan prasangka baik. Ia memiliki prinsip bahwa yang menimpanya adalah yang terbaik menurut Allah. Sehingga ia tidak menggerutu dan tidak memberontak serta selalu menatap semua ujian dengan tersenyum.
Yang kedua tidak putus berdoa. Doa merupakan senjata orang beriman, berdoa merupakan ibadah dan enggan berdoa merupakan kesombongan kepada Allah. Yang ketiga yaitu meneladani nabi dan rasul, mereka adalah kekasih Allah namun ujian Allah yang ditimpakan kepada mereka begitu dahsyat dan tak terperikan. Di antara mereka mendapat gelar ulul azmi karena keberhasilan mereka dalam mengarungi ujian berat. Dan mereka tidak pernah berputus asa kepada allah. Yang terakhir adalah beramal dan bertawakal. Sebab Allah tidak menurunkan emas dari langit. Singsingkan lengan baju. Kita gunakan seluruh potensi yang Allah berikan .
Akhirnya dengan jiwa yang suci marilah kita berdoa, menundukkan hati akan kebesaran Allah, menengadah mengharap karunia Allah untuk kita, keluarga kita, kaum muslimin dan bangsa kita.
*Ringkasan khutbah Idul Fitri 1432 H oleh drs. Moh. Badrudin. MPd.I
Kepala Seksi Urusan Agama Islam Kemenag Kab. Ngawi
Beberapa variable untuk membangun optimisme yaitu yang pertama adalah husnudzan kepada Allah. Kita sepakat bahwa tidak ada satu peristiwa yang terjadi selain dengan izin dan kehendak Allah termasuk ujian dan kesulitan yang tengah kita hadapi. Seorang mukmin menghadapi semua ketentuan Allah dengan prasangka baik. Ia memiliki prinsip bahwa yang menimpanya adalah yang terbaik menurut Allah. Sehingga ia tidak menggerutu dan tidak memberontak serta selalu menatap semua ujian dengan tersenyum.
Yang kedua tidak putus berdoa. Doa merupakan senjata orang beriman, berdoa merupakan ibadah dan enggan berdoa merupakan kesombongan kepada Allah. Yang ketiga yaitu meneladani nabi dan rasul, mereka adalah kekasih Allah namun ujian Allah yang ditimpakan kepada mereka begitu dahsyat dan tak terperikan. Di antara mereka mendapat gelar ulul azmi karena keberhasilan mereka dalam mengarungi ujian berat. Dan mereka tidak pernah berputus asa kepada allah. Yang terakhir adalah beramal dan bertawakal. Sebab Allah tidak menurunkan emas dari langit. Singsingkan lengan baju. Kita gunakan seluruh potensi yang Allah berikan .
Akhirnya dengan jiwa yang suci marilah kita berdoa, menundukkan hati akan kebesaran Allah, menengadah mengharap karunia Allah untuk kita, keluarga kita, kaum muslimin dan bangsa kita.
*Ringkasan khutbah Idul Fitri 1432 H oleh drs. Moh. Badrudin. MPd.I
Kepala Seksi Urusan Agama Islam Kemenag Kab. Ngawi