Sunday, June 17, 2012

Sajadah Panjang part1


Selama sebulan penuh kita berada dalam bulan suci, bulan penuh keberkahan dan nilai. Bulan yang mengantarkan kita kepada suasana batin yang sangat indah. Bulan yang sarat dengan nilai pendidikan bagi kita kaum muslimin.
Bulan Ramadhan melatih kita untuk memberi perhatian kepada waktu, dimana banyak manusia yang tidak bisa menghargai dan memanfaatkan waktunya. Ramadhan melatih kita untuk selalu rindu kepada waktu shalat, yang barangkali di luar Ramadhan kita sering mengabaikan waktu shalat. Sedangkan pada bulan Ramadhan kita selalu menunggu suara adzan, minimal suara adzan Maghrib, bahkan kita menempel dan hafal jadwal imsakiyah. Mudah-mudahan selepas Ramadhan, rasa rindu kepada waktu shalat selalu kita pelihara.

Ramadhan juga melatih kita untuk memakmurkan tempat ibadah. Gegap gempita kita mendatangi rumah Allah, kita kerahkan anak istri kita untuk meramaikan tempat suci ini. Ramadhan melatih kita untuk lebih mementingkan ketaatan kepada Allah dengan mengorbankan tenaga dan kepentingan kita. Saat kita masih lelah bekerja seharian namun kita justru rukuk dan sujud dalam shalat tarawih dengan satu harapan keridhaan Allah.

Ramadhan melatih kita untuk mempunyai solidaritas sesama manusia, dengan rasa lapar dan dahaga kita teringat akan nasib sebagian saudara kita yang kurang beruntung yang setiap harinya dirongrong rasa lapar dan dahaga. Apalagi rasa kemanusiaan nyaris sirna dewasa ini. Saat budaya hedonism mulai menjangkiti manusia modern, dimana mereka hanya disibukkan oleh urusan pribadi. Manusia modern perlu melakukan puasa sunnah untuk melatih kepekaan sosialnya, untuk merasakan derita yang dialami sebagian bangsa ini. Sehingga muncullah kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin. Atau minimal dapat menurunkan gaya hidup kelas tinggi mereka di tengah bangsa yang menangis ini. Letakkan harta di tanganmu dan jangan letakkan di hatimu, demikian nasihat ulama.

Sungguh, kehidupan yang kita lalui masih sulit, beban yang kita pikul semakin berat. Pekerjaan kian sulit diari, harga melamnbung tinggi, pengangguran masih tinggi, bencana alam, dan kejahatan yang merajalela. Tidak ada bekal yang terbaik untuk menghadapi kondisi sulit ini selain ketakwaan. Marilah kita menatap hari esok dengan semangat berubah kearah yang lebih baik dan penuh optimisme.