Saturday, February 17, 2018

Wisata Hati : Mekkah

Menuju Mekkah kami sudah berganti dengan pakaian ihrom. Bapak-bapak pakai 2 kain, sedangkan yang ibu-ibu berpakaian biasa asalkan menutup aurat termasuk memakai kaos kaki dan manset tangan. Jarak Madinah dan Mekkah dijangkau dalam 6 jam, termasuk singgah di Masjid Bir Ali  untuk mengambil Miqat, solat sunah umroh, dan berniat umroh.




Selain itu kami juga singgah di Pom bensin serta Rest Area. Pom bensinnya di Arab aneh deh, ga bagus seperti Pertamina di Indonesia. Sepertinya dikelola individual, karena pegawainya tidak memakai seragam, peraturannyapun tidak ada (masa ada yang merokok di dekat pengisian bahan bakar).

Dan di Mekkah dan Madinah tidak ada motor lho, jadinya tidak ada tuh yang namanya antrian di Pom Bensin. Rest area yang kami kunjungi tidak begitu memadai, airnya kurang, serta mushola sempit. Kami hanya membeli pisang saja 3 buah seharga 5 riyal, mahal ya, karena ini kan pasti impor dari Negara tropis.


Sampai di Mekkah malam hari selepas waktu Isya. Bus kami harus menunggu karena jalanan ditutup untuk jalan jamaah yang pulang dari masjid. Setelah agak longgar, bus kami bisa masuk dan berhenti di depan hotel. Setelah makan malam dan istirahat sebentar, kami berangkat ke Masjidil Haram untuk melanjutkan umroh kami.

Kami berangkat sekitar tengah malam, namun suasana masih ramai, area sekitar hotel kami sedang direnovasi, sehingga lampu penerangan jalan ada yang tidak menyala. 

Sedikit berjalan tampaklah hotel yang menjadi icon baru Mekkah, memang tinggi banget, sebelumnya pas di perjalanan masuk Mekkah dianya sudah menyapa. Di area Masjidil Haram sendiri masih dalam renovasi sehingga masih begitu banyak crane yang bekerja.

Pom Bensin dekat Madinah

Mengambil miqat di Masjid Bir Ali dekat Madinah
Sampai di Masjidil haram kami solat sunah dulu dan briefing sebentar tentang pintu gerbang di Masjidil Haram. Kalau di Masjid Nabawi pintu gerbangnya dibedakan laki-laki dan perempuan, sedangkan di Masjidil Haram dibedakan untuk Ihrom dan Non Ihrom, merasa diuntungkan disini karena wanita kan baju biasa juga sudah diakui seperti ihrom, jadi tidak perlu menyesuaikan baju seperti Bapak-bapak.

Kami masuk berombongan dan nyaris tanpa pemeriksaan meskipun pintu gerbang ihrom juga selalu dijaga petugas. Sedikit saja berjalan sudah nampak Kabbah di hadapan kami. Sambil terus menyebut Talbiyah kami terus maju menuju area thawaf di dasar masjid.

Walau saat itu telah lepas tengah malam, namun area thawaf tetap ramai, barisan kami mulai terseok-seok apalagi di bagian belakang, banyak jamaah lain menyeberang dan bergabung di tengah barisan kami. Namun cukup aman karena kami berada di sisi luar, tidak terlalu mendekat ketengah.

Thawaf kami pun dimulai dari Rukun Hajar Aswad sebanyak 7 kali putaran. Rukun Hajar Aswad nyaris tidak tampak, karena dikelilingi begitu banyak jamaah, nampak pula petugas berjaga sambil berpegangan pada sebuah tali besar di dekat Hajar Aswad.

Segala doa pun kami panjatkan, sambil berusaha tetap berkonsentrasi, karena ramai jadi susah konsentrasi. Setelah selesai thawaf, kami sholat sunah di depan Kabbah, beberapa jamaah ada yang mulai selfie hehe.

Selesai thawaf dan sa'i
Kami lanjutkan dengan Sa’I sebanyak 7 putaran antara Shafa dan Marwa. Tempat ini ada di dalam Masjidil Haram ya, cukup memutar saja. Jadi meskipun bukit namun dia berada di dalam masjid dan telah dipagar kaca tinggi dan juga bertingkat. 

Bapak dan Ibu penulis sudah berada di barisan depan, sedangkan penulis jadi tim penyapu di belakang, kasihan yang sepuh-sepuh pada capek dan hampir ga kuat.

Sebenarnya santai saja sih gapapa, kalo mau capek berhenti dulu minum air zam-zam yang tersedia di samping jalur juga bisa, tapi mungkin yang sepuh sepuh ini takut ditinggal, jadi mereka akhirnya ngos-ngosan mengejar ketertinggalan dengan barisan yang di depan.

Sa’i ini juga ramai bersama dengan jamaah lain dari berbagai Negara, jadi seru dan ga bakal ngantuk meskipun dini hari. Sekitar pukul 3 pagi kami selesai Sa’I dilanjutkan bertahalul sambil beristirahat dan mengambil foto.

Oya di Madinah dan Mekkah waktu Subuh sekitar pukul 6 kurang, jadi kami memutuskan untuk pulang ke Hotel untuk beristirahat.

Pintu gerbang Masjidil Haram

Tangga Masjidil Haram

Jadi fotografer di Masjidil Haram
Hari berikutnya kami ikut tour ke beberapa tempat, antara lain Jabal Thur (tempat Rasululloh bersembunyi sebelum Hijarh ke Madinah), kemudian ke Jabal Rahmah (tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa setelah saling mencari), serta Jabal Nur (tempat Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail yang kemudian diganti dengan domba oleh Allah SWT). Di tempat tersebut kami berdoa serta berbelanja, haha, karena banyak pedagang di area-area tersebut.

Di hari berikutnya kami ikut tour lagi ke Museum Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, disini kita bisa lebih mengerti sejarah kedua masjid tersebut, sayangnya di beberapa foto seperti Hajar Aswad sudah berlubang karena mungkin terlalu banyak dipegang orang. Disini juga ada air zam-zam, jadi jangan lupa bawa botol minum kemana-mana ya.

Pulangnya kami mampir ke daerah peternakan unta, si unta-unta ini benar-benar diternakkan di gurun lho, kasian je kepanasan, hiks. 

Selain unta ada juga peternakan kambing, sayang penulis pas ga bisa ambil foto. Kalau domba diternakkan di sisi-sisi gunung batu, dan nantinya diangkut dengan truk yang besar yang sudah disekat-sekat.
Jabal Rahmah

Ambil foto dari Jabal Rahmah

Museum Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

Gurun dekat Mekkah
Pengalaman di masjidil haram tentunya pas nemenin ibu penulis yang kepengen nyium Hajar Aswad. Kalo penulis sih sebenarnya takut soalnya rame terus dan sudah diwanti-wanti kalo wanita sendiri sebaiknya tidak memaksakan ke Hajar Aswad. 

Tapi ya gimana lagi akhirnya antar Ibu ke jalur Ihrom, waktu itu sekitar pukul 1 malam dan suasana area thawaf masih begitu ramai.

Kami mulai menyeberang mendekati Hajar Aswad, sebentar penulis ajak Ibu ke Rukun Yamani dan menyentuh dinding Kabbah yang terbuka tidak tertutup Kiswah di bagian bawah.

Lalu merangsek ke arah Hajar Aswad yang ramai, ketika sudah dekat kami ditawari mas-mas untuk dipandu ke Hajar Aswad. Sudah dibawa mas-mas itupun kami masih ditawari lagi je, penulis jadi kepikiran jangan-jangan yang berada di area Hajar Aswad calo semua nih.

Area Hajar Aswad sangat ramai dan hiruk pikuk, tampak di depan kami ada bayi berihrom yang diselamatkan petugas, kemudian setelah berdesak-desakan dengan orang lain yang guede guede akhirnya ibu bisa mencium Hajar Aswad, penulis ga bisa karena ga tega ramainya, apalagi Hajar aswadnya tertutup oleh tangan jamaah lain, laki-laki lagi.

Ya sudah cukup deh berdesak-desakannya, pas ibu mintadinatar ke Hijr Ismail penulis pun menolak,lain halnya kalo bawa mas bojo someday ya, kalo cuma cewek cewek gini very dangerous.

Bekal ke Masjid

Pulang dari Masjidil Haram setelah subuh
Selain itu kami hanya memperbanyak solat dan mengaji di masjidil haram, dengan bekal botol air minum setiap saat. Mengaji di Masjidil Haram berarti hanya mengaji ya, karena penulis ga bisa menemukan Al Quran dengan terjemahan Indonesia, bahkan terjemahan Inggris juga tidak ada, adanya terjemahan bahasa India dan Rusia.

Kalau kamu lebih suka mengaji dengan terjemahan, maka sebaiknya bawa Quran terjamahan kamu sendiri. 

Karena area solat wanita terbatas, kami wanita sangat sulit mendapat tempat solat di depan Kabbah. tempat depan adalah milik jamaah laki-laki, kami wanita berda di belakangnya, jadi Kabbah tidak keliatan.

Kecuali jika solat sunnah, seperti kami pas dini hari masih boleh solat di area laki-laki, pas di depan Kabbah, bahkan penulis sempet tidur di depan Kabbah, hehe. Ketika hampir solat subuh kami sudah diusir oleh petugas, akhirnya kami pun melipir mundur. ^^b