Monday, February 12, 2018

Wisata Hati : Madinah


Tahun 2018 dimulai dengan cerita wisata hati ya. Ga berani bilang review atau tips and trick, cuma sekadar agar tidak lupa saja. Jadi ceritanya mau menemani Ibu penulis umroh ke Baitulloh, eh ternyata malah penulis yang harus ditemani bapak karena wanita kurang dari 45 tahun harus pergi bersama mahram laki-lakinya. Ya sudahlah kami bertiga pergi deh bertiga.



Diawali dengan manasik, berangkat pagi bikin paspor, dan juga suntik vaksin meningitis. Manasiknya ga seperti manasik haji ya, karena umroh kan lumayan lebih sederhana, hanya diberi materi saja dan sedikit praktek thawaf.

Paspor sebenarnya penulis mau bikin di Jogja saja, tapi ternyata antrian onlinenya sampai berbulan-bulan jadi akhirnya bikin bareng-bareng di Imigrasi Madiun. Petugas Imigrasi galak-galak ya, ga ada ramahnya, yang ramah malah tukang parkirnya.


Persiapan selanjutnya packing mulai  dari alat mandi, alat solat, baju gamis, kerudung, baju tidur, jaket, buku tulis, alat tulis, obat-obatan semua masuk koper. Koper yang besar sebelum Hari-H sudah disetor , jadi pas berangkat cuma bawa tas tenteng atau tas ransel saja.

Kami berangkat naik Lion Air dari Surabaya ke Jeddah ditempuh dalam 11 jam perjalanan. Sampai mati gaya karena kerjaan cuma tidur makan tidur saja. 

Penerbangan JT 0082 memakai pesawat jenis Air Bus yang kapasitasnya sampai 400 orang, jadi pesawatnya panjang dan berjejer-jejer satu baris ada 9 kursi. Kami bertiga dapat satu baris jadi bisa hahahihi bareng.


Ibu lagi ngeliatin mbak pramugari
Nasi goreng hijau ala Lion Air

Sampai di Jeddah pukul 3 sore, antri sebentar di imigasi, sambil menunggu antrian aktifkan dulu paket Roaming Indosat yang sudah dibeli dari tanah air. Sinyal di Jeddah cukup oke dan langsung kasih kabar orang rumah.

Bandara King Abdul Aziz ini unik lho karena desainnya seperti kumpulan tenda-tenda, jadi semi outdoor. Karena haus, penulis membeli air mineral harganya 2 riyal, ga usah khawatir karena penjualnya pintar berbahasa Indonesia.


Bandara King Abdul Aziz, keliatan bentukan tendanya kan 
Kucing Arab, doyan ayam juga

Langsung dari bandara kami menuju hotel Luxurious Raudah Suites di Madinah. Perjalanan hampir 6 jam karena mampir makan di Rest Area yang biasa aja kayak di Indonesia, eh tapi untuk pertama kalinya ketemu kucing Arab, sama aja juga sih kembang telon.

Sampai di Madinah sudah larut malam dan dingin mencapai 15 derajat Celcius. Kami mandi dan langsung pergi solat Maghrib Isya di Masjid Nabawi. 

Karena sudah capek perjalanan jauh, rombongan kami hanya solat di pelataran saja sambil briefing singkat.

Masjid Nabawi meskipun tengah malam tetap buka, tidak pernah tutup, sedikit sepi namun masih banyak jamaah wara wiri. 




Pintu khusus wanita adalah Pintu 25, kalo dari gerbang tengah sedikit ke kiri. Ibu penulis yang bersemangat langsung mengajak masuk masjid, masuk dari Pintu 25 tanpa permisi langsung ngacir masuk masjid.

Sementara penulis dicegat petugas, diteriaki Ibu ibu ibuuu, maksudnya sandalnya disuruh disimpan di loker. Ya sudah sandal taruh loker dan lanjut mengejar Ibu penulis.

Akhirnya kami ketemuan dan langsung solat malam dan witir. Sambil melamun ternyata kayak begini masjidnya Rasululloh ya, bagus banget. 

Di setiap tiang masjid ada semacam Air Conditioner sentral gitu, jadi selalu adem, di atasnya ada tumpukan Al-Quran kecil, sedang, maupun besar.

Selain di tiang-tiang, Al Quran juga tersedia di rak buku. Di sisi selasar berjajar-jajar jerigen-jerigen air Zam-zam dilengkapi dengan gelas plastiknya, air zam-zam ini dibawa langsung dari Mekkah ya, ada dua varian Cold dan Not Cold. Setelah puas melihat-lihat kami pun pulang ke hotel.

Esok pagi kami berangkat untuk solat subuh, suasananya ramaaaai, oya sebelum masuk masjid tas diperiksa oleh petugas ya, jangan lupa sandal disimpan dalam tas kresek. 

Solat di Masjid Nabawi bacaannya panjang-panjang dan bacaan solatnya pun lama-lama. Cocok deh buat yang mau mengadu sama Alloh, habis solat bisa ngaji sebanyak-banyaknya sampai puas.

Oya berangkatlah awal solat, paling tidak satu jam sebelum adzan, sehingga mendapat tempat yang nyaman, yaitu tempat di belakang tiang atau di belakang rak dan agak ke pinggir bukan di tengah, karena sebelum dan setelah solat pasti banyak jamaah yang bersliweran di depan kita, mereka tidak sungkan-sungkan lewat meskipun kita hendak rukuk dan sujud. Jadi kalo mau lebih khusyuk, berangkatlah awal ya.

Masjid Nabawi bagian dalam, keliatan tumpukan Al Qurannya kan
Masjid Nabawi, bagian dalam, abaikan modelnya ya

Hari pertama kami di Madinah kami berkunjung ke beberapa tempat. Yang pertama ke Jabal Uhud dimana ada pemakaman syuhada. 

Gunung Uhud ini cuma berjarak 6 km dari Masjid Nabawi dan berwarna agak kemerahan, bukan kehijauan atau kebiruan seperti gunung di Indonesia. Di Jabal Uhud kita berdoa untuk syuhada sambil mendengarkan kisah perang Rasululloh.

Selanjutnya kami ke masjid Quba yang didirikan oleh Rasululloh juga, disini kita solat dan berdoa. Oya baik di Jabal Uhud maupun di Masjid Quba banyak pedagangnya ya, segala macam ada.

Penulis cuma beli kurma muda yang masih semi frozen, 1 kg harganya 10 riyal. Setelah itu kami pulang ke hotel dengan melewati Masjid Qiblatain. 

Oya selama perjalanan dikasih snack Roti Arab dan air mineral, sama aja sih rasanya haha. 

Gunung Uhud

Kurma muda
Masjid Quba
Roti Arab
Air mineral Arab
Malam harinya jadwal ke Raudhoh atau taman surga yaitu pelataran antara mimbar dan rumah Rasululloh. Kami berangkat menuju masjid sekitar pukul 9 malam, berombongan sekitar 30 orang.

Masuk ke Raudhoh bagi wanita ada jadwalnya, tidak bebas seperti jamaah pria, karena area Raudhoh ada di area jamaah pria. 

Antri Raudhoh seperti antri apa ya, rasanya tegang karena banyak yang tidak tertib sehingga petugasnya marah-marah. Entahlah marah atau tidak karena mereka berbicara keras dan tegas.

Kami per rombongan antri dari belakang, kemudian maju ke depan, sampai ke depan lagi, sekitar hampir tengah malam. Rasanya capek dan deg-degan karena saking banyak orang.

Sampai akhirnya di Raudhoh penulis hanya memejamkan mata sambil berkonsentrasi berdoa, karena suasana malam itu sangat ramai dan kacau, semua orang berusaha merangsek ke depan.

Penulis hanya bisa pasrah karena menggandeng simbah-simbah, akhirnya undur diri paling awal karena tidak kuat dengan begitu banyak desakan jamaah lain.

Masjid Nabawi pagi hari
Masjid Nabawi malam hari
Masjid Nabawi bagian luar, kubah hijaunya tertutup payung

Masjid Nabawi dikeliling oleh hotel dan pertokoan. Bisa belanja sepuasnya menghabiskan uang riyal disini, tapi menurut penulis penjualnya agak genit-genit, apalagi kalo sama perempuan muda, ga nyaman aja sih.

Sementara bagi yang kangen dengan masakan Indonesia jangan khawatir, ada restoran-restoran di sekitar masjid yang bisa kalian coba. 

Harganya macam-macam, bakso 10 riyal, ayam panggang 20 riyal, kentang goreng 5 riyal, teh panas 2 riyal, nasi putih 2 riyal.

Oya di depan masjid Nabawi juga ada semacam Bus bertingkat untuk tour dalam kota, tapi sayangnya penulis ga sempet mencobanya.

Hari kedua kami berjalan-jalan disekitar masjid Nabawi, melewati pasar dan hotel-hotel di sekitarnya kemudian mengelilinginya. 

Begitu juga dengan hari ketiga kami mengunjungi pemakaman Baqi yang ada di sisi belakang masjid Nabawi sembari menengok kubah hijau khas Masjid Nabawi sembari berpamitan karena kami hendak beranjak ke Mekkah. ^^b