Sunday, November 4, 2012

Transportasi Ribet

Sudah lama penulis menjadi perantauan, sejak jaman kuliah sampai sekarang tak kurang dari 8 tahun. Namun baru sekarang penulis merasakan betapa ribetnya untuk mudik ke kampung halaman. Jaman dahulu, seribet-ribetnya pulang kampung ga akan ada yang namanya penumpukan penumpang di terminal.

Alkisah liburan Idul Kurban kemaren penulis dengan pedenya mudik tanpa menengok stasiun terlebih dahulu. Dan kemudian ternganga-nganga saat mendapati stasiun full mencep-mencep oleh calon penumpang. Madiun jaya pun tak disangkal lagi tiketnya ludes, pukul 17.00 yang tersisa hanyalah tiket Prameks jam terakhir, itupun antreannya, waladalah, mengular sekali.
Sudah tahu seperti itu, penulis tetap cuek dan pergi melenggang ke terminal Giwangan. Bau-bau chaos sudah mulai nampak dari gerombolan orang di tepi jalur bis. Dalam seumur hidup penulis belum pernah terjadi kejadian seperti ini, dulu memang pernah bis penuh dengan penumpang, yaitu saat libur Pemilu, selain itu terminal biasanya lebih sering kosong melompong.

Ya sudahlah, saat orang-orang yang lain mengejar-ejar bis demi mendapat satu kursi kosong, penulis lebih memilih balik kanan dan pulang ke kos saja, hahah..

Tak disangka perjalanan berangkat mudik yang ajaib ini terulang lagi saat akan balik. Tiket sudah di tangan namun kereta yang ditunggu tak kunjung datang. Tak kurang dari 4 jam penulis ngendon di stasiun, bĂȘte dan capek.

Ternyata Prameks yang beberapa hari yang lalu sempat anjlok, hari ini menyambar motor sehingga mengakibatkan rintangan jalan. Sampai di Jogja sudah larut malam, kos sudah tutup, hffft..

Sudah saatnya pemerintah memikirkan hal ini, transportasi publik yang memadai menjadi harapan semua orang. Prameks yang berjalan 6 kali bolak-balik, dan Madiun Jaya yang jalan 3 kali bolak-balik dalam sehari kiranya belum  cukup menampung banyaknya penumpang.

Dan ketika penumpang kereta tidak tertampung, armada bis harusnya bisa menampung, tapi entahlah, kalau dalam waktu special seperti long week-end, penumpukan penumpang dan kemacetan di jalan nampaknya hampir pasti masih akan terjadi.

Yah, penulis masih menanti, semoga ada aliran dana untuk memperbaiki transportasi, amin.., semoga yang mengatur kebijakan anggaran lebih bijaksana lagi ya.. ^^b