Thursday, July 14, 2011

Guide Taman Sari

Di suatu akhir minggu yang tenang dan cerah, penulis dan seorang teman pergi keliling kota Yogyakarta. Perjalanan dimulai dari titik sebelah timur Stadion Mandala Krida menuju arah selatan yaitu daerah Alun-alun. Ya, hari ini kami hendak mengunjungi Taman Sari, sebuah kompleks pemandian di sebelah barat Keraton Yogyakarta.


Pesanggrahan Taman Sari ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I dan diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana II. Meskipun demikian, lokasi Pesanggrahan Taman Sari sebagai suatu tempat pemandian sudah dikenal jauh sebelumnya. Pada masa pemerintahan Panembahan Senapati lokasi Taman Sari yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Umbul Pacethokan. Umbul ini dulu terkenal dengan debit airnya yang besar dan jernih serta menjadi salah satu pertimbangan penting bagi penentuan letak calon Keraton Yogyakarta.

Waktu itu musim liburan dan lalu lintas sedang padat-padatnya. Setelah mengarungi jalanan yang puadet kami sampai juga di tempat tujuan. Tiket masuk Taman Sari sendiri sangat terjangkau yaitu hanya Rp. 3.000,-. Di sana banyak bule-bule berkeliaran, ada bule Eropa, ada juga bule Korea, apa bule Jepang yak?#gapenting. Kami waktu itu langsung cabut tanpa memperhatikan guide-guide yang menawarkan diri, eh jasa maksudnya. Pertama yang kami lakukan tentu saja adalah take a picture di dekat kolam yang berwarna biru muda cantik. Sayang sungguh sayang, pengunjung sedang ramai-ramainya, jadi yah, ngambil photonya harus antre gitu deh.

Setelah itu kami pun beranjak ke spot lain, sambil berhaha-hihi kami menyusuri jalanan kampung tanpa menyadari bahwa langkah kecil kami diikuti oleh seorang bapak-bapak yang mencurigakan. Tanpa intro terlebih dahulu bapak-bapak itu kemudian langung sok akrab dan menjelaskan ini-itu kepada kami. Kami pun cuma bisa berpandangan mata dan berharap bisa berkomunikasi walau tanpa kata-kata. Dalam hati kami berkata, “Kena guide deh, piye caranya melarikan diri, harus bayar berapa nih???”. Sementara bapak itu terus bersemangat menjelaskan ini-itu kepada kami (tanpa diminta), sehingga kami pun (dua gadis yang tak berdaya) tak kuasa menolak dan membiarkan bapak itu nyerocos sendiri (penulis ga mendengarkan je, =p).

Selanjutnya kami digiring menuju mushola bawah tanah, berphoto dan kemudian menyusuri lorong-lorong penghubung yang gelap seakan tak berujung. Sambil berpura-pura ngobrolin bangunan yang retak-retak mau ambrol kami pun kasak-kusuk diskusi mau ngasih berapa ke bapak itu. Untungnya bapaknya ga berani malakin kami dan menerima bayaran seikhlasnya, fyuuuuh..^^b